Desember 7, 2025

 Aupair di Belgia 

    Gilaaakkk, udah lama banget gak nulis di blog ini. Saking ribetnya sama hidup... Saya baru ada inisiatif lagi untuk menulis setelah sekian lama gak ngetik pake laptop. Maksud dari blog ini sebenarnya untuk nostalgia pengalaman saya menjalani hidup. Saya ingin bercerita ketika saya akhirnya pergi ke Belgia untuk menjadi aupair lagi. Ini terjadi sekitar tahun 2012. Setelah saya backpacking bersama teman saya si Sapi. Saya lanjut ke meninggalkan Jakarta untuk tinggal di Keerbergen, Belgia. Kebetulan saya jadi aupair kedua. Dan aupair pertama keluarga ini, adalah kenalan saya juga yang pernah jadi aupair di Belanda. Dunia sempit ternyata. Dan rejeki memang gak kemana. 
    Anak yang saya jaga, berumur sekitar 3-4 tahun, namun memiliki kebutuhan khusus. Ketika bayi dia udah harus dioperasi jantungnya. Dua kali kalo gak salah. Dan memiliki ASD (Austism Spectrum Disorder). Kemungkinan karena ketika bayi ada masalah juga dengan otaknya. Saya agak lupa, bagaimana persisnya. Tapi yang saya inget, dia selalu di rumah. Jadi saya gak perlu keluar rumah untuk anter ke sekolah. Keluarga hostfamily saya ini juga baik bener. Dan open minded. Mereka percaya sama saya jadi saya juga berusaha melakukan kerjaan saya dengan baik. Hostfamily saya tau kalau saya sportif suka olahraga, jadi mereka juga membiarkan saya untuk olahraga pagi dan lain-lain.
    Saya belajar banyak sekali ketika menjadi aupair di keluarga ini. Sepertinya saya belajar ikhlas dari mereka. Bayangkan saja, hostfamily ini punya segalanya. Punya pekerjaan yang bagus serta gaji yang tinggi, rumah seperti vila dengan kolam renang, mobil lengkap ada porsche juga. Anak ada dua. Yang pertama terlahir normal dan yang kedua yang saya jagain saat itu. Saya jadi mikir, memang punya anak itu seperti gambling ya, gak tau juga bakal dapet kaya gimana. Dan ketika kenapa-kenapa ya harus diterima dengan ikhlas.....Saat itu saya masih gak paham dengan pemikiran Ibu hostfam, yang masih kerja part time di bank. Dan punya aupair. Kenapa gak dia urus aja anak-anaknya sendiri dan gak usah kerja. Toch suaminya juga udah tajir melintir dengan kerjaannya. 
    Sekarang ketika saya sudah memiliki suami dan anak, akhirnya paham. Bukan masalah uang atau gak mau urus anak, tapi sebagai istri memang perlu untuk memiliki pekerjaan di luar rumah untuk berkarya, menikmati hidup dan keluar dari rumah sesekali. Ini penting sekali untuk mentalnya. Dan betapa berat ujian Ibu hostfam saya, yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Yang untungnya mereka berasal dari keluarga yang berada sehingga dapat mengurus anak-anaknya dengan baik. 
    Anak yang saya jagain ini bernama Jools. Anaknya lucu banget. Gemesin. Saya bisa main sama dia dan sekaligus mengajari ngomong bahasa Belanda karena saya sekalian praktek juga kan. Dan cocok dengan saya meskipun saya streng, hehehe. Hostfamily juga respect dengan saya. Sewaktu liburan Paskah, saya diajak ke Spanyol bersama mereka tapi dengan aupair sebelumnya, Liza. Saya mah seneng-seneng aja, dibayarin semuanya. Dan ada temen ngobrol juga sama Liza, ihihi. Selain itu saya juga diberikan kesempatan untuk menghadiri workshop di Greifswald, Jerman. Karena saya terpilih untuk ikut workshop "Non-violent communication". Kurang lebih seminggu. Untungnya ada oma dan opanya Jools yang bisa diandalkan, sehingga bisa gantian jagain Jools. 
    Sayangnya setelah saya sudah pensiun menjadi aupair dan sudah memiliki kehidupan sendiri, saya mendengar dari hostfamily saya ada kasus kurang mengenakkan dari aupair-aupair setelah saya. Yang bener-bener bikin geleng kepala. Karena dari kasus ini, hostfamily saya gak bisa punya aupair lagi. Saya sempet membantu dengan menulis pernyataan bahwa hostfamily saya punya track record yang baik. Meskipun pada akhirnya gak membantu juga sih.. Saya menyimpulkan dari kasus ini, sebisa mungkin komunikasi yang baik dengan hostfamily. Jujur, terbuka, dan ekspetasinya diatur. Aupair memang a part of family, tapi jangan lupa, sebagai anggota keluarga kita juga membantu hostfamily ini dengan kerjaan rumah tangga tergantung kesepakatannya apa. Karena saya gak suka masak, saya udah bilang ke hostfam untuk gak masak. Beresin baju, cuci piring dll ok. Tapi masak, no thanks. Ah semoga hostfamily saya ini kehidupannya baik-baik saja. Dulu sempet berkunjung untuk ultahnya Jools, ketika anak saya berumur 3 tahun. Dan ketemuan dengan Liza juga. 
    Seneng banget akhirnnya nge-blog lagi. Yang penting saya udah nulis. Kapan-kapan saya mau menulis lagi tentang perjalanan hidup saya. Wihiiiii!!! 


    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Madiun, Pacitan Lalu Kembali ke Jakarta